Dokter Tirta Ungkap Sisi Gelap pada Lingkungan Profesinya: Sengsara

JAKARTA – Isu terkait dunia kedokteran belakangan berada dalam mencuat. Bahkan, sisi gelap terkait profesi ini satu per satu mulai terungkap.
Hal itu menyusul hebohnya perkara bunuh diri orang dokter muda sekaligus kontestan PPDS Anestesi Undip Semarang akibat dugaan aksi perundungan. Kasus yang dimaksud lantas memproduksi Dokter Tirta teringat akan sisi gelap dari profesi yang dimaksud terkenal dengan ‘image’ bergaji tinggi tersebut.
Padahal, menurut Dokter Tirta, faktanya dokter merupakan sebuah profesi yang digunakan sengsara. Terlebih jikalau bukan menjadi dokter spesialis juga tak ditugaskan pada area yang tersebut ‘strategis’.
“Justru ketika itu (setelah masuk kuliah kedokteran) aku baru tahu, ternyata jadi dokter kalau nggak jadi spesialis itu sengsara. Dan kalaupun jadi spesialis, kalau nggak di dalam lahan basah itu juga sengsara,” ujar Dokter Tirta di podcast sama-sama Feni Rose, mengutip dari kanal YouTube Feni Rose Official, Rabu (21/8/2024).
Dokter Tirta menyebut, proses menjadi dokter spesialis juga tidak ada mudah. Butuh perjuangan yang mana sangat keras. Mulai dari masa kuliah yang lama hingga harus dibayar tidak mahal pada waktu pertama kali menjalani profesi.
Bahkan apabila tak memiliki ‘networking’ alias jalur ‘ordal’, Dokter Tirta menyebut, di area awal-awal karier, profesi dokter akan berbagai miliki tantangan oleh sebab itu mampu ditugaskan di tempat wilayah yang tersebut sangat dari keluarga serta penuh dengan lingkungan bukan sehat.
“Prosesnya tuh kaya maraton. Kuliahnya lama banget juga proses juga lama. Setelah lulus dokter umum harus internship. Setelah internship gajinya pas-pasan dan juga harus berjuang keras lima tahun lagi untuk jadi spesialis,” ungkapnya.
“Setelah lima tahun kalau punya networking bagus akan kerja di area lahan basah. Jadi lahan basah tuh deket keluarga, masih dalam Pulau Jawa. Tapi kalau ingin tantangan bisa jadi ke wilayah tiga T yang tersebut mana sangat stressful juga terpencil dari keluarga,” lanjut dokter yang juga kreator konten itu.
Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada itu lantas menunjukkan perjuangannya ketika menjalani koas (co-ass) pada tahun 2014, tepatnya pada pada waktu inisiatif BPJS Aspek Kesehatan di area Indonesia perdana diberlakukan. Saat itu, Dokter Tirta sempat mengira, perjuangannya sudah selesai usai menjadi dokter umum.






