Rupiah Berotot Lawan Dolar, Ditutup ke level Rp15.438

JAKARTA – Skor tukar (kurs) rupiah pada perdagangan hari ini ditutup menguat 53 poin atau 0,35 persen ke level Rp15.438 pasca sebelumnya di dalam Rp15.492 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat dibuka pada level Rp15.346 per USD.
Pengamat bursa uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar Negeri Paman Sam dipengaruhi Ketua Federal Reserve Jerome Powell memberikan sinyal yang tersebut jelas bahwa pemotongan suku bunga Amerika Serikat yang telah dilakukan lama diantisipasi akan terjadi bulan depan.
“Pada pidato utamanya di dalam konferensi kegiatan ekonomi tahunan Kansas City Fed di tempat Jackson Hole, Wyoming, Powell mengatakan, “Sudah waktunya bagi kebijakan untuk menyesuaikan diri,” mengingat risiko kenaikan kenaikan harga telah terjadi berkurang lalu risiko penurunan lapangan kerja sudah meningkat,” tulis Ibrahim di risetnya, Mulai Pekan (26/8/2024).
Para pelaku lingkungan ekonomi pada hari Hari Jumat terus bertaruh pada pemotongan suku bunga seperempat poin persentase pada pertemuan Fed tanggal 17-18 September, dengan prospek sebesar 65% setelahnya pernyataan Powell. Namun, mereka itu memperkirakan prospek sekitar satu dari tiga untuk pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin yang mana lebih lanjut besar, naik dari kesempatan sebelumnya yang dimaksud sedikit lebih lanjut dari satu dari empat.
Laporan media internasional mengatakan, gencatan senjata Kawasan Gaza masih sulit dicapai pada pembicaraan Kairo Laporan media menunjukkan bahwa pembicaraan antara gerakan Hamas dan juga negara Israel di area Kairo tidaklah menciptakan kesepakatan untuk gencatan senjata selama akhir pekan, menurunkan kesempatan de-eskalasi pada pertempuran yang telah lama berlangsung selama 10 bulan.
Pejabat Amerika Serikat mengungkapkan pembicaraan itu konstruktif, meskipun kurangnya kesepakatan yang jelas merusak komentar optimis sebelumnya dari pejabat AS. Namun, pembicaraan akan terus berlanjut di beberapa hari mendatang.
Dari sentimen domestik, fundamental ekonomi nasional ketika ini sangatlah kuat, sehingga faktor kebijakan pemerintah tidak ada terlalu memberikan dampak signifikan bagi kinerja ekonomi nasional. Unsur-unsur fundamental itu antara lain perkembangan dunia usaha yang sangat sehat, naiknya harga yang tersebut rendah, dan juga imbal hasil dari instrumen penanaman modal yang tinggi.
Selain itu, secara domestik, pertumbuhan sektor ekonomi hingga 5 persen dan juga tingkat naiknya harga sekitar 2 persen di jangka panjang menunjukkan perekonomian Indonesia sangat sustain pada menghadapi setiap gejolak yang tersebut ada.
Berdasarkan data diatas, mata uang rupiah untuk perdagangan berikutnya diprediksi bergerak fluktuatif, namun kembali ditutup menguat pada rentang Rp15.370 – Rp15.460 per dolar AS.




